PENDAHULUAN
Pada waktu Allah SWT memperkenankan berusaha dengan atau bekerja mencari nafkah dengan cara jual-beli, pada waktu itu cara pertama yang dilakukan adalah dengan sistim barter atau tukar menukar barang. Kemudian, setelah masa manusia memasuki abad kemajuan, mereka lalu mengubah cara bekerjanya, yang awalnya barter diganti dengan penentuan harga, agar lebih mudah teknis pemenuhan kebutuhan manusia dan terhindar dari kesukaran serta kesulitan (Mashaqat).
Dengan demikian, para ulama’ menetapkan beberapa peraturan yang wajib dilakukan bagi penjual maupun pembeli. Oleh karena itu, di makalah kami ini akan sedikit membahas beberapa aturan tentang jual-beli.
I. JUAL BELI
A. Filsafat Jual-beli[1]
Pada waktu Allah SWT memperkenankan berusaha dengan atau bekerja mencari nafkah dengan cara jual-beli, pada waktu itu cara pertama yang dilakukan adalah dengan sistim barter atau tukar menukar barang. Kemudian, setelah masa manusia memasuki abad kemajuan, mereka lalu mengubah cara bekerjanya, yang awalnya barter diganti dengan penentuan harga, agar lebih mudah teknis pemenuhan kebutuhan manusia dan terhindar dari kesukaran serta kesulitan (Mashaqat).
Dengan demikian, jual-beli menjadi cara bekerja yang paling banyak diminati oleh masyarakat serta dapat memperoleh banyak kesejahteraan bagi manusia, karena dapat berusaha mencari rizki dengan aman dan tenang tanpa ada yang merasa dirugikan, baik kerugian terang-terangan, terpaksa maupun tersembunyi. Oleh karena itu, Allah SWT menghalalkan jual-beli dan sekaligus menetapkan aturan yang kuat atau kokoh untuk menjamin kelangsungan hidup dan kebaikan manusia.
Kenyataan memang menujukkan bahwa, sengketa perdata khususnya mengenai jual-beli paling banyak terjadi,karena disebabkan tidak dipenuhi persyaratan dan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Peraturan dan persyaratan tersebut, telah banyak ditulis diberbagai kitab dan buku, khususnya di bab Fiqih.
Disamping itu ada beberapa aturan dan tatakrama atau etika yang harus dijaga dan dipatuhi bersama agar tercipta iklim usaha yang adil dan bijaksana. Dengan begitu tidak ada yang merasa tertipu.Adab dan etika itu telah termuat dalam firman Allah SWT dan telah banyak dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.
B. Pengertian Jual-beli
Jual-beli menurut bahasa artinya memberikan sesuatu dengan imbalan sesuatu atau tukar-menukar sesuatu. Sedang menurut istilahnya, pengertian jual-beli ada beberapa versi, yakni,
1. Jual-beli adalah tukar menukar suatu barang dengan barang lain dengan cara tertentu atas dasar saling rela dan disetujui tanpa ada unsur penipuan antara kedua belak pihak yang bersangkutan.[2]
2. Jual-beli adalah satu cara untuk mendapatkan barang yang tidak dimiliki dengan cara menukar uang dengan barang yang ingin dimiliki seseorang tersebut.
3. Jual-beli adalah menghadapkan suatu harta benda dengan harta benda yang keduanya menerima untuk dibelanjakan disertai ijab dan qobul menurut cara yang diizinkan oleh syara’.[3]
4. Jual-beli adalah memiliki suatu harta dengan mengganti sesuatu atas dasar izin syara’ atau sekedar ingin memiliki manfaatkannya saja dengan melalui pembayaran yang berupa uang atau yang lain.[4]
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Jual-beli ialah suatu cara untuk mendapatkan barang yang ingin dimiliki atas dasar saling rela mengharap manfaat dari barang tersebut dengan jalan syara’ atau hukum yang berlaku.
C. Aturan Jual-beli
Jual-beli adalah menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara yang tertentu (Akad). Dalam al-Qur’an disebutkan :
اَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّ بَوا. ( البقرة : ٢٧٥ )
Artinya :
“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah : 275)
لَاتَأْكُلُوْااَمْوَالُكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّا اَنْتَكُوْنُ تِجَارَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِنْكُمْ. (النساء : ٢٩)
Artinya :
“Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. ( An-Nisa : 29)
D. Rukun Jual-beli
Jual-beli harus dilakukan dengan memenuhi rukun yang ditentukan oleh syara’, yaitu :
1. Penjual dan pembeli harus mempunyai akal yang sehat dan sudah baligh.
2. Orang yang membeli dan menjual tidak dikarenakan dipaksa, melainkan kehendak dirinya sendiri.
Dalam firman Allah SWT :
وَلَا تُؤْتُواالسُّفَهَآءَ اَمْوَالَكُمُ الَّتِيْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَمًاوَارْزُقُوْهُمْ فِيْهَا. ( النساء : ٥ )
3. Barang yang diperjual-belikan suci, bermanfaat, kepunyaan sendiri, dan dapat diketahui (nyata) oleh kedua pihak.
4. Akad yaitu ijab dan qobul antara penjual dan pembeli.
E. Syarat Syah Jual-beli
Syarat jual-beli adalah hal-hal yang bersangkut paut dengan rukun jual-beli tersebut,
a. Syarat syahnya penjual pembeli terdiri dari 4 macam :
1) Baligh
2) Berakal Sehat
3) Tidak Pemboros
4) Suka Sama Suka
b. Syarat syah barang yang diperjual-belikan, yaitu :
1) Barang itu Suci
2) Barang itu Bermanfaat
3) Barang itu Milik Sendiri
4) Barang itu Jelas
5) Barang itu dapat diketahui oleh Kedua pihak
F. Bentuk Jual-beli
Jual-beli adakalanya sah, apabila memenuhi syarat dan rukunnya. dan adakalanya tidak sah apabila tidak memnuhi syarat dan rukunnya. Dan adakalanya sah tapi terlarang, apabila melanggar larangan-larangan syara’ atau melanggar atau merugikan kepentingan umum dan masyarakat.
a) Jual-beli sesuatu yang dapat dilihat atau barang yang akan ditransaksi jual-beli itu ada di tempat. Maka jual-beli tersebut hukumnya boleh, akan tetapi harus ada syaratnya, yakni :
1) Keadaan bendanya suci.
2) Bendanya dapat diambil manfaatnya.
3) Bendanya dapat diserahkan kepada pihak pembeli.
4) Ada akad Ijab dan Qobul antara penjual dan pembeli.
b) Menjual benda yang diberi sifat atau dapat dikatakan penjualan Pesanan atau Salam. Penjualan seperti ini Boleh dilakukan asalkan di dalamnya terdapat sifat yang ditetapkan dari beberapa sifat. Maksudnya, menjual sesuatu atau barang yang telah ditetapkan dengan sifat dalam satu tanggungan. Adapaun syarat menjual barang dengan salam, ialah :
1. Barang yang dipesan dapat dibatasi dengan sifat yang dapat membedakan pengertian barang yang dipesan. Di dalam menyebutkan sifat-sifat barang, jangan menggunakan kata yang melebihi takaran.
2. Jenis barang yang dipesan tidak bercampur dengan jenis lainnya, jika itu terjadi maka hukumnya tidak boleh.
3. Barang yang dipesan itu tidak boleh berubah bentuk ataupun warnanya. Kecuali pada mentega atau minyak goreng.
4. Barang yang dipesan tidak boleh ada ditempat akad berlangsung.
Syarat Menjual barang dengan cara pesanan atau salam, ialah :
a. Orang yang memesan harus mnyebutkan ciri-ciri barang yang dipesan, agar dapat membedakan harga jualnya nanti.
b. Orang yang memesan hendaknya memberi penjelasan perkiraan barang yang dibeli.
c. Jika orang yang memesan tadi membayar dengan tempo atau masa tenggang, maka ia harus menyebutkan batas waktu bayarnya.
d. Harga barang harus jelas menurut perkiraan.
e. Harus ada serah terima antara kedua belah pihak sebelum keduanya berpisah.
f. Akad pesanan tidak ada Khiyar syaratnya, namun Khiyar majlis yang berlaku.
c) Menjual barang yang tidak ada, maksudnya barang yang akan diperjual-belikan tidak nampak ada ddi tempat akad. Maka jual-beli sepert ini hukumnya tidak boleh.
Ada 5 jenis jual-beli yang kurang sah karena syarat dan rukunnya, yaitu:
1. Jual-beliSistim Ijon. Maksudnya sistem ijon ialah jual-beli padi yang belum ada buahnya, baru berupa pohan. Jual-beli buah-buahan yang masih muda, masih diatas pohon. Sebabnya karena masih samar-samar, kemungkinan jadi padi atau buah dan kemungkinan tidak jadi padi atau buah karena busuk atau terserang hama. Maka jual-beli sistim ini mungkin akan merugikan pihak pembeli dan penjual.
2. Jual-beliAnak Binatang Ternak yang masih dalam Kandungan. Ini tidak sah karena belum jelas,apakah nanti setelah lahir anak binatang itu masih hidup atau mati, besar atau kecil, dan sebagainya.
3. Jual-beliSperma (Air Mani) Binatang Jantan. Ini tidak sah, karena sperma (air mani) tidak dapat diketahui kadarnya dan tidak dapat diterima wujud barangnya. Adapun meminjamkan tidak dengan maksud jual-beli, malah dianjurkan. Maksudnya seorang yang mempunyai ternak jantan dianjurkan untuk meminjamkan kepada orang yang mempunyai ternak betina supaya kawin dan supaya beranak.
4. Jual-beliBarang yang belum Ada diTangan. Maksudnya ialah jual-beli yang baranganya belum diterima dan masih berada di tangan penjual pertama. Secara hukum pemilikan, penjual belu memiliki barang tersebut.
5. Jual-beliMinuman Keras dan Benda-benda lain yang Haram. jual-beli barang haram tidak sah dan terlarang serta haram hukumnya. yaitu jual-beli minuman keras (khamer), bangkai, darah (marus), daging babi, patung-berhala, dsb.
G. Jual-beli Sah tapi Terlarang
Adapun jual-beli terlarang itu ada 6 macam, yakni :
1. Jual-beli yang dilakukan pada waktu sholat jum’at. Maksudnya, apabila waktu shalat jum’at telah masuk, maka umat islam dilarang melakukan jual-beli, karena menyebabkan orang lupa menunaikan shalat jum’at. Sebagai pedagang muslim, sangat dianjurkan agar supaya menutup toko/warungnya apabila waktu shalat jum’at telah masuk.
Allah berfirman :
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا اِذَانُوْدِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْمَعُوْا اِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوْا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. (الجمعة : ٩)
artinya,
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk menunaikan shlah jum’at, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah, dan tinggalkan jualbeli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu menetahui”. (Q.S. Al-Jumu’ah : 9)
2. Jual-beli Barang dengan Niat untuk diTimbun. Membeli atau memborong barang dagangan dengan maksud untuk ditimbun pada saat masyarakat sangat membutuhkan barang itu makahukumnya sah tapi terlarang. Karena pedagang itu mempunyai niat yang kurang terpuji, ia baru akan menjualnya dengan harga mahal.
Rasululloh bersabda :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : لَا يَحْتَكِرُ اِلَّا خَا طِىءً. (رواه مسلم)
Artinya :
“Tidaklah akan menimbun barang, kecuali orang yang durhaka”. (H.R. Muslim)
3. Membeli barang dengan menghadang diPinggir jalan. Membeli barang dengan cara mencegat penjual barang sebelum sampai pasar, hukumnya sah tapi terlarang. sebabnya penjual barang yang dihadang tadi belum mengetahui harga umum di pasar, sehingga kemungkinan besar penjual menjual barang dengan harga di bawah pasar.
4. Membeli atau menjual barang yang masih dalam tawaran orang lain. Ajaran Islam memberikan penghargaan dan hak kepada orang yang menawar barang dipasar, sehingga jual-beli di nilai sah tapi terlarang.
Rasululloh bersabda :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَهْ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : لَا يَبِعْ بَعْضُكُمِعَلَى بَيْعِ بَعْضٍ. (متفق عليه(
“Janganlah engkau menjual atau membeli dan sebagian kamu atas barang yang sudah di jual-beli oleh orang lain”. (H.R. Muttafaq ‘Alaih)
5. Jual-beli barang dengan menipu. maksudnya disini ialah mengurangi timbangan atau takaran, timbangan yang digunakan untuk membeli dan menjualdibedakan, sebagaimana Sabda Rosul nomer 4 tadi.
6. Jual-beli alat-alat untuk maksiat. Artinya menjual-belikan kartu untuk perjudian, dsb.
II. Khiyar dalam Jual-beli.
Khiyar artinya memilih atau terbaik. Sedang menurut istilah dalam jual-beli ialah hak memilih bagi pembeli atau penjual untuk meneruskan aqad jual-beli atau membatalkan aqad jual-beli.
Tujuan diadakan khiyar dalam jual-beli ialah agar kedua belah pihak dapat memikirkan sejauh mungkin kebaikan barang yang akan di beli atau dijual dikemudian hari, agar tidak ada penyesalan. Sabda Rosul : “Engkau boleh khiyar dalam tiap-tiap barang yang akan engkau beli selama tiga malam”. (H.R. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah). Khiyar hukumnya boleh selama sesuai ketentuan syara’ dan begitu sebaliknya.
A. Macam-macam Khiyar
Hak memilih atau Khiyar ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. Khiyar Majlis
Yang artinya hak memilih antara dua pilihan (meneruskan jual-beli atau membatalkannya bagi penjual atau pembeli pada waktu itu juga dan ditempat belangsungnya aqadjual-beli). Tetapi apabila keduanya telah berpisah, maka hak khiyar sudah tidak berlaku lagi. Rosululloh bersabda :
اَلْبَيْعَانِ بِالْخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا. رواه الشيخان
“Dua orang yang mengadakan jual-beli, diperbolehkan dengan khiyar (boleh memilih untuk meneruskan atau membatalkan jual-belinya), selama keduanya belum terpisah dari tempat aqad. (H. R. Al-Bukhori - Muslim)
2. Khiyar Syarat
Maksudnya hak memilih dan meneruskan aqad jual-beli atau membatalkannya dengan syarat tertentu. Apabila syarat itu tidak dipenuhi. maka aqad jual-beli batal. Masa berlakunya Khiyar Syarat selama tiga hari.Khiyar ini harus didasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Belakunya khiyar ini hanya selam tiga hari, apabila lebih aqad tersebut gugur.
3. Khiyar ‘Aib
Maksudnya hak memilih antara meneruskan dan membatalkan aqad jual-beli, yang disebabkan adanya cacad (‘aib) yang asli pada barang tersebut sejak semula dari pihak penjual.
Mengembalikan barang yang sudah dibeli dengan alasan si pembeli menyesal karena barngnya ada yang cacad, harga barang terlalu tinggi, dsb, maka hukumnya boleh. Rosululloh bersabda : “Siapa saja yang membatalkan jual-beli terhadap orang yang menyesal, maka Allah akan menghindarkan dia dari kerugian usahanya. (H. R. Al-Bazaar)
III. Qiradh
Artinya menyerahkan harta milik berupa emas atau uang kepada seseorang sebagai modal usaha kerja dagang dengan mengharapkan akan mendapatkan keuntungan dengan ketentuan dibagi menurut perjanjian.
Apabila kemudian ada kerugian, maka yang menanggung kerugian tersebut ialah orang yang menanam modal tadi, kecuali ada penyalahgunaan modal tersebut oleh pemakai.
Hukum Qiradh mubah atau boleh, dilakukan sejak mulai perjanjian sampai waktu yang tidak terbatas. Qiradh dapat dicabut sewaktu-waktu dengan alasan tertentu, dan apabila keduanya mengalami sakit gila ataau meninggal, maka harta tadi diselesaikan oleh ahli waris masing-masing.
a) Rukun Qiradh
1) Ada modal (emas atau uang atau barang berharga lain yang dapat diketahui jumlah nilainya).
2) Pemilik dan pekerja hendaknya sudah baligh, berakal sehat dan merdeka.
3) Ada lapangan pekerjaan, yakni pekerjaan yang tidak dibatasi oleh waktu.
4) Keuntungan ditentukan terlebih dahulu.
5) Ada ijab qobul.
b) Larangan bagi yang melaksanakan Qiradh
1) Tidak boleh melanggar isi perjanjian Qiradh.
2) Tidak boleh menggunakan modal untuk kepentingan diri sendiri.
3) Tidak boleh mengadakan perjalanan jauh, dalam artian berdagang keluar daerah kecuali telah ada persetujuan.
4) Modal tidak boleh digunakan untuk maksiat.
IV. Riba
Riba menurut bahasa adalah lebih atau bertambah. Sedang menurut istilah adalah akad yang terjadi dengan penukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara’ atau terlambat menerimanya.
Macam-macam Riba
a) Riba Fadli, adalah menukarkan dua barang yang sejenis dengan tidak sama.
b) Riba Qardi, adalah hutang dengan syarat ada keuntungan bagi yang memberi hutang.
c) Riba Yad, adalah berpisah dari tempat akad sebelum timband terima.
d) Riba Nasa’, adalah disyaratkan salah satu dari kedua barang yang ditukarkan ditangguhkan penyerahannya.
Ayat dan hadits yang melarang riba
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãYtB#uä w (#qè=à2ù's? (##qt/Ìh9$# $Zÿ»yèôÊr& Zpxÿyè»ÒB ( (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÌÉÈ
Artinya :
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertaqwalah kamu keapda Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan. (Ali-Imron : 130)
عَنْ جَابِرٍ لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ : اَكِلَ الرِّبَاوَمُوَ كِّلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ. روه مسلم
Artinya :
Dari jabir, “Rosululloh SAW, telah melaknat (mengutuk) orang yang makan riba, wakilnya, penulisnya, dan dua saksinya”. (H.R. Muslim)
V. Hikmah Jual-beli dan Mu’amalat
Islam telah mengatur jual-beli dan usaha-usaha perekonomian dengan menetapkan hal-hal yang halal dan haram, adalah bertujuan:
1) Mencegah tertimbunnya kekayaan pada seorang atau sekelommpok manusia tertentu saja, sehingga yang lainnya jatuh miskin.
2) Menciptakan pemerataan keadilan.
3) Mempererat jiwa penolong dalam beramal sholeh dan taqwa.
KESIMPULAN
Dapat diketahui bahwasannya pembeli maupun penjual dapat melakukan akad jual-beli harus disertai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Nabi maupun para sahabat-sahabat Beliau.
Tentu saja dalam hal jual-beli, ada larangan yang harus dihindari oleh penjual maupun pembeli. Hal itu merupakan syarat penentuan sah atau tidaknya dalam akad jual-beli, seperti misal ada riba dalam jual-beli, ada sedikit kecurangan maupun hal lain yang dapat membatalkan akad jual-beli.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin, Bejono. Fiqih. Klaten: P.T.Hafa Mira, t,t.
Aula. Surabaya:Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama Jawa Timur,2011.
Jalaludin As suyuthi, Imam. Jami’u As-shoghir. Surabaya: Al-ihsan,t.t.
Muhammad bin qosim al-ghozi, ash syekh. Fat-Hul Qarib. Surabaya: Al Hidayah, 1991.
Nur Ichwan Muslim, muhammad. “Fiqih Muamalat”. (http://www.muslim.or.id, diakses 18 Maret 2011.)
Rasyid, Sulaiman. Fiqih Islam. Bandung: PT Sinar Baru Algensindo, 1996.
Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid. Jakarta: Pustaka amani, 2007.
Shidik, Ahmad. Benang Tipis Antara Halal dan Haram. Surabaya: Putra Pelajar, 2002.
Tim Direktorat jenderal kelembagaan agama islam atau direktorat pendidikan agama dan pondok pesantren. Fiqih Ibadah. t,k, Direktorat jenderal kelembagaan agama islam atau direktorat pendidikan agama dan pondok pesantren,2004.
Umam, Chatibul. Fiqih. Kudus: Menara kudus, 1993.
[1] Asnawi, M.Ag., Filsafat Hukum Islam, (Surabaya : Elkaf, 2006), Hal. 96-97. I.
[2] Drs. Bejono Aminudin, Fiqih, (Klaten : PT. HAFAMIRA, 2002), hal. 11
[3] Tim Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, Fiqih dan Ibadah, (t.tp : Proyek Peningkatan Pendidikan Keagamaan, 2004), hal. 45.
[4] Achmad Sunarto, FATHUL QARIB , terj. Asy-syekh Muhammad bin Qasim Al-Ghazy, (Surabaya : Al-Hidayah 1991), Hal 334
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar