Halaman

Jumat, 30 Maret 2012

SEJARAH FILSAFAT ISLAM


PENDAHULUAN
Ekspedisi militer yang dilakukan oleh Raja Iskandar Zulkarnain dari Macedonia ke kawasan Asia dan Afrika Utara pada permulaan abad keempat sebelum Masehi merupakan suatu sejarah yang sangat penting, tidak saja dari segi militer tapi juga dari segi kebudayaan. Para penyerbu itu tidak hanya tertera, tapi juga sejumlah Ilmuwan dan Cendekiawan turut ikut serta.
Lewat mereka inilah kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani tersebar luas di daerah-daerah penaklukan, sehingga melahirkan suatu kebudayaan baru yang disebut dengan kebudayaan Hellenisme. Yakni suatu kebudayaan campuran antara kebudayaan Yunani dengan kebudayaan lain yang terdapat pada daerah jajahan, terutama di Asia kecil.
Berbagai pusat studi ilmu dan falsafah Yunani telah didirikan, yang tak hanya terbatas pada pendalaman kajian warisan bangsa tersebut, akan tetapi juga berbagai peninggalan karya tulis dari para ilmuwandan filosofnya dialihbahasakan. Diantara pusat-pusat studi kebudayaan yunani yang terpenting terdapat di Iskandaria (Mesir), Harran, Urfa (Raha),Nusaibain, Jundisapur dan Baghdad.[1]



PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Sebagian pihak menyatakan bahwa antara filsafat dan agama pada dasarnya berbeda, sehingga mustahil ada filsafat dari agama tertentu. Jika ada, maka ia tidak lebih dari filsafat  dan teologi mengenai agama dan bukan filsafat dari agama. Dasar-dasar pembuktian kebenaran agama dan filsafat sangatlah berbeda.
Oleh karena itu, gagasan filsafat Islam tampak seperti ungkapan yang menggabungkan pengertian yang berlawanan.[2]
Makna filsafat dapat ditijau dari dua segi, yakni:
a. Segi Semantik, kata filsafat berasal dari kata Arab Falasafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophy, yang berarti Philos= cinta, suka (loving), dan shopia = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Orang yang cinta kepada pengetahuan adalah philosoper, dalam bahasa Arabnya Failasuf. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau dengan perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
b. Segi Praktis, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semuanya berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Semboyan mengatakan “setiap manusia adalah filsuf.”
Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Terangnya, filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Ruang lingkup pembahasan filsafat sangatlah luas, maka filsafat mempunyai banyak definisi menurut ahli filsafat masing-masing.
Dari berbagai Ahli Filsafat mengartikan dan dapat disimpulkan bahwa,
a. Filsafat adalah ilmu istimewayang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuanbiasa.
b. Fisafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mandalami secara radikaldan integral serta sistematis hakikat Tuhan, alam semesta dan manusia.
Sedangkan yang dimaksud dengan Filsafat Islam adalah suatu ilmu yang dicelup ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu.
Ada juga yang mengartikan bahwa Filsafat Islam adalah suatu kutipan dari filsafat Aristoteles dan ulasan-ulasannya, berangsur-angsur menjadi hilang dan timbullah pengakuan akan adanya filsafat Islam yang mempunyai kepribadian sendiri, karena selain pikiran-pikiran Aristoteles, didalamnya juga ada unsur-unsur Yunani, India, Iran dan lain-lain. Yang kesemuanya ini menggambarkan kepribadian filsafat Islam. Kepribadian ini nampak jelas dalam sistem pemikiran mereka yang teratur dan berpangkal pada pikiran-pikiran Aristoteles, memperbaiki kekurangan-kekurang Aristoteles dan mengemumakan pikiran-pikiran baru, mempertemukan agama dan filsafat.[3]
Karakteristik Filsafat Islam adalah filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas filsafat Yunani lainnya, seperti Ketuhanan, alam dan roh. Akan tetapi secara penyelesaiannya dalam filsafat Islam berbeda dengan filsafat lain, para filosof Muslim juga menambah dan mengembangkan kedalam hasil-hasil mereka. Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas filsafat sebelumnya, seperti filsafat Kenabian. Filsafat Islam terdapat pemaduan antara Agama dan Filsafat, antara Akidah dan Hikmah, antara Wahyu dan Akal. Seperti yang diungkapkan Al-farabi.[4]



B.     FILSAFAT dan AGAMA
Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. H. Rosjidi diuraikan tentang perbedaan Filsafat dan Agama. Yaitu:
Filsafat
Agama
a. Filsafat berarti berpikir
b. Filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami (William Temple)
c. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang
d. Filsafat dapat diibaratkan seperti air yang tenang dan jernih dan juga dapat dilihat dasarnya.
e. Seorang ahli filsafat dalam menghadapi suatu paham yang berbeda dengan pahamnya sendiri selalu bersikap lunak.
f. Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya.
g. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen, walaupun itu argumennya sendiri.
a. Agama berarti mengabdikan diri, jadi yang penting ialah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.
b. Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.
c. Agama dapat dikiaskan dengan rasa cinta seseorang, rasa pengabdian.
d. Agama banyak berhubungan dengan hati.
e. Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya.
f. Agama, oleh pemeluk-pemeluknya akan dipertahankan, sebabmereka telah terikat dan mengabdikan diri.
g. Agama, disamping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan mengabdikan diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.
h. Filsafat penting mempelajari Agama.

Untuk meperpadukan antara Agama dengan Filsafat perlu adanya pemikiran kaum muslimin yang memegang teguh terhadap agama dan menolak filsafat, ini adalah pendirian orang yang tidak berfilsafat. Dan memperhatikan akidah-akidah agama.
Banyak kaum muslimin menggunakan jalan tengah dari setiap permasalahan. Setiap kali menemukan aliran-aliran yang berbeda dan berlawanan tentu timbul penengahnya, seperti yang ditimbulkan oleh sejarah aliran-aliran dalam Ilmu Kalam.[5]

C.     Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani
Proses sejarah masa lalu tidak dapat dielakkan begitu saja bahwa pemikiran Filsafat Islam terpengaruh oleh Filsafat Yunani. Para filosof Islam banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik terhadap pikiran-pikiran Platinus. Sehingga banyak teori-teori Filosuf Yunani yang diambil oleh Filsuf Islam.
Akan tetapi, berguru tidak berarti mengekor dan mengutip, sehingga dapat dikatakan bahwa filsafat Islam itu hanya semata-mata dari Aristoteles, sebagaimana yang dikatakan Renan, karena filsafat Islam telah mampu menampung dan mepertemukan berbagai aliran pikiran. Spinoza misalnya, meskipun ia sering mengikuti Descrates tetapi ia mempunyai mazhab atau pemikiran sendiri. Ibnu Shina, meskipun ia menjadi murid setianya Aristoteles, ia mempunyai pemikiran sendiri.
Para filsuf Islam pada umumnya hidup dalam lingkupan dan suasana yang berbeda dari yang dialami filsuf-filsuf lain. Sehingga pengaruh lingkungan terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.
Keunggulan filsafat Islam dalam masalah pembagian cabang-cabangnya mencakup ilmu Kedokteran, Biologi, Kimia, Musik ataupun Ilmu Falak yang semuanya menjadi cabang filsafat Islam. Sehingga hal ini dapat menjadi nilai lebih bagi filsafat Islam.
Filsafat memasuki wilayah-wilayah ilmu ke-Islaman dan mempengaruhi pembatasan-pembatasannya. Sehingga pembahasan ilmu filsafat menjadi luas sampai manghasilkan ilmu Kalam, Tasawuf, Ushul Fiqh dan Tarikh Tasyri’.
Pemikiran Islam mempunyai ciri khas tersendiri dibanding dengan filsafat Aristoteles, seperti halnya pemikiran Islam pada ilmu Kalam dan Tasawuf. Demikian pula pada pokok-pokok hukum Islam (tasyri’) dan Ushul Fiqh juga terdapat beberapa uraian logis dan sistematis dan mengandung segi-segi kefilsafatan.
Hubungan antara filsafat Islam dengan Ilmu Tasawuf ialah filsafat mempunyai obyek bahasan tentang alam dengan segala isinya, manusia dan perilaku, sikapnya serta mengenal eksistensi Allah SWT. Sedangkan Tasawuf sebagai obyeknya adalah perkenalan dengan Allah SWT lewat ibadah syariat, ilham dan intuisi.
Sebagaiman juga Ilmu Fiqh, ushul Fiqh juga terpengaruh logika Aristoteles. Hal ini dapat dilihat dalam melakukan istimbat hukum dengan cara qiyas atau silogisme, sebagai salah satu ciri metoda berfilsafat.

D.    Perkembangan Filsafat Yunani ke Dunia Islam
1.      Perkembangan
Filsafat Yunani paling dominan masuk ke dunia Islam ditandai dengan adanya penerjemahan buku-buku filsafat. Upaya-upaya umat Islam ini dapat memunculkan tokoh Filsuf Islam yang terkenal didalam maupu diluar Islam. Yakni Al-Kindi, Ibnu Rasyid, dkk.[6]
Penerjemahan buku-buku Ilmu Pengetahuan Yunani ke dalam Bahasa Arab dimulai pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid. Dia mengirim orang-orang untuk pergi ke Kerajaan Romawi di Eropa untuk membeli manuskrip. Mulanya, yang dipentingkan hanyalah ilmu tentang kedokteran tetapi dengan pertimbangan yang meyakinkan akhirnya ilmu pengetahuan lainnya juga dipentingkan dan juga filsafat.
Buku-buku ini diterjemahkan terlebih dahulu kedalam bahasa Syiria, bahasa ilmu pengetahuan di Mesopotamia pada waktu itu, kemudian baru diterjemahkan kedalam Bahasa Arab.
Penerjemah-penerjemah pada zaman itu yang termasyhur adalah Hunayn ibnu Ishaq, seorang Kristen yang pandai berbahasa Arab dan Yunani. Ia menerjemahkan 20 buku Galen kedalam bahasa Siri dan 14 buku lain kedalam bahasa Arab. Menurut keterangan, ia mempunyai 90 pembantu dalam menerjemahkan buku-buku tersebut.Kemudian putra dan kemenakan Hunayn juga ikut andil dalam penerjemahan buku tersebut, dan juga banyak orang lain yang ikut menerjemahkan.
Dengan penerjemahan ini, sebagian dari karya-karya Aristoteles, Plato, neo-platonisme, Galen, ilmu pengetahuan tentang kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya dapat dibaca dan dipelajari oleh Alim Ulama Islam.
Karangan-karangan tentang filsafat banyak menarik perhatian Kaum Mu’tazilah, sehingga mereka banyak dipengaruhi oleh pemujaan daya akal yang terdapat dalam filsafat Yunani. Abu al-Huzail al-Allaf, Ibrahim al-Nazzam, Bisr Ibnu al-Mu’tamir dan lain-lain banyak membaca buku-buku filsafat. Dalam pembahasan mereka mengenai Teologi Islam, daya akal dan logika yang mereka jumpai dalam filsafat Yunani banyak mereka pakai. Tak heran jika teologi kaum Mu’tazilah mempunyai corak rasional dan liberal.[7]
2.      Masa kemajuan Filsafat Islam
Pada masa berikutnya, yaitu masa al-Ma’mun yang merupakan masa keemasan bagi kegiatan penerjemahan, untuk pertama kalinya buku-buku filsafat Metafisika, Etika dan Psikologi diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Sebab adanya penerjemahan buku-buku ini berkisar pada pribadi al-Ma’mun dengan kegairahannya pada ilmu pengetahuan.
Hal itu disebabkan karena kecenderungan al-Ma’mun pada pikiran atau paham Aliran Mu’tazilah yang cukup mendorongnya untuk membela dan menguatkan pendirian mereka dalam persoalan Qur’an dengan alasan-alasan pikiran, pada persoalan tentang al-Qur’an sebagai kalimatullah sudah tentu menyangkut salah satu sifat Tuhan, kecenderungan al-ma’mun terhadap kebebasan berpikir seluas-luas dan i’tikadnya yang baik pada filosof-filosof, yaitu sebagai manusia pilihan bahwa orang banyak harus mengambil pikiran-pikirannya, al-Ma’mun menghendaki adanya penerjemahan-penerjemahan baru. Lapangan Ketabiban, Matematika, Astronomi, dan lain-lain mendapat dorongan yang kuat dari para Penguasa, karena ilmu-ilmu tersebut tidak menyinggung sebagai kepercayaan dan tidak pula mengendorkan rasa agamis pada orang-orang awam dan orang-orang pandai.
Setelah mereka meyakini kebaikan nilai lapangan-lapangan tersebut, maka bertambahlah kegiatan para penguasa tersebut untuk mempelajari segi ilmupengetahuan dan filsafat Yunani, serta berusaha memperolehnya dengan jalan apapun. Diantaranya ialah Filsafat Ketuhanan, Etika dan Filsafat Psikologi. Terutama karena lapangan-lapangan merupakan bahan yang baru sampai pada masa al-Ma’mun.
3.      Masa Kemunduran Filsafat Islam
Setelah masa al-Ma’mun lewat, penerjemahan tidak banyak lagi dilakukan terutama pada buku-buku filsafat. Bahkan al-Mutawakkil mengekang kebebasan berpikir dan menindas orang-orang yang bekerja dalam lapangan filsafat. Keadaan ini pada kemudiannya menyebabkan timbulnya orang yang bekerja pada lapangan filsafat secara diam-diam seperti golongan Ikhwanushafa.[8]
Dalam Teologi, doktrin Mu’tazilah yang rasional, yang dibangun Washil ibn Atha’ telah mendominasi pemikiran masyarakat, bahkan menjadi doktrin resmi negara dan berkembang dalam berbagai cabang, dengan tokohnya masing-masing seperti Amir ibn ‘Ubaid, Jahiz Amir ibn Bahr, Abu Hudzail ibn al-Allaf, Ibrahim ibn Sayyar an-Nadzam, dkk.
Begitu pula dalam bidang Fiqh, penggunaan nalar rasional dalam penggalian hukum (istinbath) dengan istilah-istilah seperti istihsan, istihlah, qiyas dan lainnya telah lazim digunakan. Tokoh-tokoh madzhab Fiqh yang menelorkan metode istinbathdengan menggunakan rasio seperti itu. Seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ibnu Hanbal. Hidup sebelum filsafat Yunani.
Semua itu menunjukkan bahwa sebelum dikenal adanya logika dan filsafat Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan dari masyarakat Islam, yakni dalam soal Teologis dan kajian Hukum. Bahkan, pemikiran rasional dari teologi dan hukum inilah yang berjasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan filsafat Yunani dalam Islam.[9]
Fisafat sesungguhnya bukan sekedar bahasan tentang isme-isme atau aliran-aliran pemikiran apalagi sekedar uraian tentang sejarah perkembangan pemikiran Islam, tetapi lebih mengedepankan bahasan tentang proses berpikir. Filsafat adalah metodologi berpikir secara kritis, analisis dan sistematis. Filsafat lebih mencerminkan proses berpikir dan bukan sekedar produk pemikiran.
Karena itu Fazlur Rahman menyatakan dengan tegas  bahwa “Bagaimanapun juga, filsafat merupakan alat intlektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu ia harus boleh berkembang secara alamiah, baik untuk pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yang lain. Hal itu dapat dipahami, karena filsafat menanamkan dan melatih akal pikiran untuk bersikap kritis, analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang dapat dibutuhkan, sehingga ia menjadi alat intlektual yang sangat penting untuk ilmu-ilmu yang lain, tidak terkecuali agama dan teologi. Karena itu orang menjauhi filsafat dapat dipastikan akan mengalami kekurangan ide-ide segar”.
Jadi, tanpa sentuhan  filsafat, pemikiran dan kekuatan spiritual islam akan sulit menemukan atau menjelaskan jati diri dalam era global.[10]



PENUTUP
Filsafat tidaklah bisa akan hilang ataupun lenyap di dnuia ini, karena setiap deti, menit, jam maupi tahun masalah-masalah akan selalu timbul. Entah itu masalah yang sengaja dibuat oleh manusia maupun tidak sengaja.
Jika ada masalah tidak disertai dengan berfilsafat atau berpikir secara sungguh-sungguh, masalah itu tidak akan selesai, karena setiap tidaklaku bukan dari naluri, akan tetapi dari akal manusia yang dijadikan Tuhan sebagai makhluk yang paling mulia dibanding dengan makhluk lainnya.



DAFTAR PUSTAKA
Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1992.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam.Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996.
Leaman, Oliver. PENGANTAR FILSAFAT ISLAM: SEBUAH PENDEKATAN TEMATIS.terj. A Brief Introduction to Islamic Philosophy. Bandung : Penerbit Mizan, 2001.
Mustofa, A. Filsafat Islam. Bandung : CV. Pustaka Setia, 1997.
Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1999.
Soleh,A. Khudori. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Zar, Sirajuddin. FILSAFAT ISLAM filosof dan filsafatnya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.


[1] Dr. Ahmad Daudy. Kuliah Filsafat Islam. (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1992). Hal 1.
[2] Oliver Leaman, terj. A Brief Introduction to Islamic Philosophy. PENGANTAR FILSAFAT ISLAM: Sebuah Pendekatan Tematis. (Bandung : Penerbit Mizan, 2001). Hal 14-15.
[3] Ahmad Hanafi. Pengantar Filsafat Islam. (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996). Hal 11.
[4] Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. FILSAFAT ISLAM filosof dan filsafatnya. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004). Hal 14.
[5]Ibid,. Hal 59.
[6] Drs. H. A. Mustofa. Filsafat Islam. (Bandung : CV. Pustaka Setia, 1997). Hal  15-27.
[7]Prof. Dr. Harun Nasution. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1999). Hal. 4-5.
[8] Ahmad Hanafi. Pengantar Filsafat Islam. (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996). Hal 43.
[9] A. Khudori Soleh,. M.Ag. Wacana Baru Filsafat Islam. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004). Hal. xvii-xviii.
[10]Ibid,. Hal. Vii-ix.

Tidak ada komentar: