Halaman

Rabu, 04 April 2012

SPI Ustman-Ali


PENDAHULUAN
Sebelum umat Islam dipimpin oleh Khalifah Ustman ibn ‘Affan, umat Islam dipimpin oleh Baginda Muhammad Rosululloh SAW, setelah beliau wafat umat Islam dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq, kemudian dipimpin oleh Sayyidina Umar ibn Khathab setelah Abu Bakar wafat karena sakit. Khalifah Ustman ibn ‘Affan memimpin umat Islam dengan warisan wilayah yang cukup luas dari pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Tugas khalifah Ustman ibn ‘Affan adalah meneruskan perjuangan dari khalifah pendahulunnya, tugas yang diemban khalifah Ustman ibn ‘Affan tidaklah serumit pendahulu-pendahulunya, akan tetapi tugas tersebut dilaksanakannya demi menyelamatkan manusia dari kegelapan dan meneruskan perjuangan Baginda Muhammad SAW yang diutus Allah SWT untuk menyelamatkan umat-Nya.
Di dalam makalah ini, akan sedikit membahas tentang sejarah khalifah Ustman ibn ‘Affan dan khalifah Ali bin Abi Thalib, agar para pembaca dapat menimba sedikit ilmu dari makalah ini tentang sejarah Islam.



PEMBAHASAN
Khalifah Ustman ibn ‘Affan (23-35 H/644-656 M)
Khalifah Ustman ibn ‘Affan merupakan keturunan asli dari Bani Umayah yang bernama Ustman ibn ‘Affan bin Abi ‘Ash bin Umayyah bin Abdu Syams. Khalifah Ustman ibn ‘Affan mempunyai sifat dermawan, murah hati dan malu yang semuanya itu membedakan dengan sifat sahabat Nabi yang lainnya. Dengan sifat inilah, Nabi Muhammad SAW sangat suka dengan khalifah Ustman ibn ‘Affan, sampai-sampai pada wafatnya Nabi Muhammad SAW dalam keadaan suka dengan khalifah Ustman ibn ‘Affan.[1]
Khalifah Ustman ibn ‘Affan merupakan pemimpin umat Islam setelah Umar bin Khathab meninggal. Dalam pengangkatan khalifah Ustman ibn ‘Affan ada beberapa golongan atau kaum yang sedikit tidak setuju akan pengangkatan khalifah Ustman ibn ‘Affan, tapi akhirnya mereka setuju. Khalifah Ustman ibn ‘Affan diangkat menjadi khalifah berusia tujuh puluh tahun.[2]
Dimasa kepemimpinannya, khalifah Ustman ibn ‘Affan meneruskan pergerakan ekspansi-ekspansi yang dilakukan oleh khalifah sebelumnya, yaitu penaklukan-penaklukan di daerah barat, timur dan utara. Hasilnya sangat membanggakan, baik penaklukannya lewat darat maupun laut, semuanya membuahkan hasil yang positif bagi umat Islam dan pemerintahannya. Seperti penaklukan Iskandariya, Farghanah, Kabul, Jurjan, Persia, Afrika[3], Asia kecil, pesisir Laut Hitam, Cyprus, Rhodes, Tunisia, Nubia, Armenia, Azerbeijan, Tabaristan[4]. Yang hasil rampasan dan pajaknya dapat dipakai untuk kesejahteraan rakyat dan untuk kemajuan negara dengan membangun atau merenovasi atau membeli peralatan perang.[5]
Sedikit perombakan sistem yang dijalankan khalifah Ustman ibn ‘Affan yang berdampak semakin stabilnya sistem pernbendaharaan negara yang lebih menekankan  kekuasaan terpusat (sentralisasi), yaitu menempatkan dalam setiap propinsi itu ada penanggungjawabnya atau sering disebut Gubernur dan menetapkan Juru Hitung Safawi.[6] Dengan adanya gubernur setiap propinsi, maka segala permasalahan sedikit dapat teratasi dan jika tidak teratasi, maka khalifah Ustman ibn ‘Affan yang akan menuntaskan permasalahannya.[7]
Dengan keberhasilan khalifah Ustman ibn ‘Affan dalam pergerakan politik-politiknya tersebut menunjukkan bahwa kekhalifahannya sedikit-banyak dapat mengurangi kekufuran kaum-kaum yang belum terjamah oleh Islam. Didalam perjuangannya sampai dapat menaklukkan beberapa wilayah dan propinsi, beliau dibantu oleh beberapa sahabat dekatnya ataupun dari keluarga beliau dari Bani Umayah.
Khalifah Ustman ibn ‘Affan menjalankan sistem pemerintahan tak jauh berbeda dengan khalifah-khalifah sebelumnya, yakni sering menggunakan musyawarah untuk mengukuhkan kemufakatan yang haq yang akhirnya dapat dijalankan sesuai dengan prosedur. Sedangkan untuk urusan pendidikan Islam, khalifah Ustman ibn ‘Affan menggunakan metode yang belum pernah dilakukan oleh khalifah-khalifah sebelumnya, yaitu dengan membolehkan para mu’alim-mu’alim mengajarkan ilmu ke-Islam-an ke luar daerah madinah, yang sebelumnya pendidikan Islam hanya dilakukan di Madinah saja.[8]
Dampak dari metode yang dipakai khalifah Ustman ibn ‘Affan sangat efisien. Kini, ahli tentang ilmu Islam bukan hanya ada di Madinah saja, akan tetapi di luar Madinah pun juga ada, tapi semuanya tetap dalam pengawasan khalifah Ustman ibn ‘Affan yang berpusat di Madinah yang merupakan pusat dari Pendidikan. Dengan begitu, Islam akan cepat menyebarluas ke seluruh penjuru dunia jika para mu’alim tersebut berkeinginan menelurkan ke umat yang belum mengerti tentang ajaran Islam.
Usaha khalifah Ustman ibn ‘Affan dalam pendidikan juga diterapkan sejak dini. Setiap orang tua yang memiliki anak dianjurkan mengajarkan anaknya membaca, memanah, menunggangi kuda, berenang, dan menghafal syair yang sedang-sedang. Sedangkan dalam urusan pendidikan yang sedikit bertingkat diatasnya, seperti membaca, menulis, menafsirkan al-Qur’an,  menghafal dan mengumpulkan hadits, dan mempelajari fiqh atau tentang syari’at lainnya langsung dibimbing oleh khalifah Ustman ibn ‘Affan jika ada waktu untuk mengajar dan para sahabat lainnya yang juga mahir dala bidang tersebut.[9]
Khalifah Ustman ibn ‘Affan dalam mengembangkan pendidikan Islam juga memperkenalkan al-Qur’an standar dengan meninjau ulang shuhuf-shuhuf yang telah ditulis oleh Zait bin Tsabit pada masa khalifah Abu Bakar ash-Shidiq. Yang sekarang kita kenal dengan nama Mushaf al Imam atau Usmani.[10]
Dalam masa kekhalifahan Ustman ibn ‘Affan, sebagian besar dijalaninya dengan aman, stabil dan makmur. Akan tetapi, tak selamanya kemakmuran tersebut dialami secara terus menerus. Hal ini dialami khalifah Ustman ibn ‘Affan pada usia senjanya. Pada masa akhir pemerintahannya, banyak terjadi konflik dan masalah yang berkelanjutan yang akhirnya khalifah Ustman ibn ‘Affan wafat secara terdzalimi.
Sebab keruntuhan khalifah Ustman ibn ‘Affan karena luas wilayah Islam semakin meluas dan keadaan rakyatnya semakin tidak terkontrol serta sulit menyatukan wadah dalam satu manhaj. Disisi lain, korupsi, kolusi dan nepotisme semakin marak dikalangan pemimpin wilayah.[11] Kemudian, di Mesir ada seorang pelopor berasal dari Yahudi yang berpura-pura beragama Islam mendoktrin rakyat mesir akan keraguan kekhalifahan Ustman ibn ‘Affan dalam memimpin negara Islam.
Akhirnya menimbulkan fitnah yang sangat besar menimpa khalifah Ustman ibn ‘Affan yang membuat kondisi negara semakin kacau. Kemudian disaat semua petinggi negara sedang sibuk mengurusi konflik dan problema negara, salah seorang dar kelompok pemberontak (Al-Ghafiqi) menyusup negara dan tak diketahui oleh keamanan negara dan dia membunuh khalifah Ustman ibn ‘Affan dengan menusuknya.
Sungguh amat rugi bagi umat Islam kehilangan seorang khalifah yang sangat baik, shaleh dan rajin ibadah. Dan tak terlupakan lagi, khalifah Ustman ibn ‘Affan menjalankan sistem pemerintahannya sangat demokratis. Wafatnya khalifah Ustman ibn ‘Affan pada usia 82 tahun[12] dan terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun 35 H/656 M.[13]
Khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H/656 M – 40 H/661 M).
Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan keturunan Bani Hasyim, lahir pada tahun 603 M di samping ka’bah kota Makkah, mempunyai nama asli Haidarah yang artinya singa (pemberian dari ayahnya Abu Thalib) dan Ali yang artinya menakut-nakuti musuh (pemberian dari Rasullulloh SAW).[14] Beliau merupakan sepupu dari Rasululloh SAW yang lebih muda 32 tahun dari Rasululloh SAW  sekaligus menantu Rasululloh SAW dari pernikahan Fatimah (putri Rasul) dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib.[15]
Khalifah Ali bin Abi Thalib sejak kecil dibina langsung oleh Rasululloh SAW, sehingga Beliau fasih dan cerdas tentang al-Qur’an dan melafalkannya. Khalifah Ali bin Abi Thalib juga termasuk dalam ashabihuunal awwalun dari kalangan anak-anak, Beliau masuk Islam dalam usia kurang dari 10 tahun. Beliau juga orang yang pertama kali yang rela menjadi Fida’ atau tebusan Rasululloh SAW dalam Islam. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyerahkan harta milik Rasululloh SAW kepada para pemiliknya. Ketika Rasul perangpun, khalifah Ali bin Abi Thalib selalu ada disamping Rasul dan memiliki keberanian yang melegenda dalam dunia Islam.[16]
Di masa jayanya, khalifah Ali bin Abi Thalib diberi kesempatan untuk memimpin umat Islam setelah khalifah Utsman bin ‘Affan, pada saat terjadi banyak konflik di negara Islam dan kemudian terbunuhnya khalifah Utsman bin ‘Affan di tangan para pemberontak, umat Islam menunjuk khalifah Ali bin Abi Thalib untuk memimpin negara Islam pada periode 35 H/656 M – 40 H/661 M.
Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan masa yang sulit, masa yang terjadi banyak konflik di negara Islam bahkan sampai terjadi perang saudara, sehingga para sahabat mendesaknya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Karena itulah, pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib roda pemerintahannya terpusat pada pembangunan dan penertiban negara.[17]
Dengan tegas khalifah Ali bin Abi Thalib menertibkan negaranya dengan menarik tanah dan hibah yang diberikan oleh kerabat Utsman kembali ke negara,[18] menggantikan gubernur Basrah dan Qais yang sebelumnya dijabat oleh kerabatnya Utsman yaitu Bani Umayah.[19] Hal inilah menjadi penyebab terpecahnya Bani Umayah dengan khalifah Ali bin Abi Thalib dan juga sahabat-sahabat lainya Talhah, Zubair dan Aisyah.
Perselisihan antara Bani Umayah dengan khalifah Ali bin Abi Thalib menyebabkan terjadinya perang Shifin yang hasilnya hampir saja dimenangkan oleh khalifah Ali bin Abi Thalib akan tetapi dari pihak Bani Umayah mengangkat al-Qur’an dan pertanda perang harus dihentikan karena untuk menghormati al-Qur’an. Setelah perang berhenti, pihak Umayah mengajak khalifah Ali bin Abi Thalib untuk berunding akan kelanjutan perselisihannya dan hasilnya nihil atau tidak ada jawaban untuk menyelesaikannya. Akhirnya kedua pihak pulang ke daerahnya masing-masing.[20]
Sesampainya di daerah kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib, ada rakyatnya yang menyuruh khalifah Ali bin Abi Thalib untuk memerangi Bani Umayah, tetapi khalifah Ali bin Abi Thalib dengan sopan menolaknya. Dengan kebijakan khalifah Ali bin Abi Thalib inilah, rakyatnya banyak yang menentang dan membangkang perintahnya. Akhirnya, mereka keluar dari kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan disebut Kaum Khawarij.[21]
Dengan sifat keangkuhannya Kaum Khawarij dengan pemimpinnya tersebut, khalifah Ali bin Abi Thalib memeranginya dan akhirnya khalifah Ali bin Abi Thalib berhasil menebas mereka. Sehingga, wilayah negara menjadi aman dan terkendali lagi. Akan tetapi dampak negatifnya banyak Kaum Khawarij melarikan diri ke wilayah-wilayah lainnya dan membentuk suatu kelompok sendiri-sendiri.
Akibat pelarian Kaum Khawarij tersebut, Mesir atau negara Syam dikuasai oleh Kaum Khawarij dan juga Bani Umayah sekaligus pemimpin negara Mesir. Dan Mesir melakukan ekspansi-akspansi ke kota madinah, kota yang dikuasai oleh khalifah Ali bin Abi Thalib untuk memperluas daerah kekuasaan. Akhirnya peperangan pun tak terbendung dengan khalifah Ali bin Abi Thalib dan kemenangan ada pada pihak Bani Umayah.
Sebab peperangan dengan Mesir itulah khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh pada saat beliau melaksanakan Sholat subuh. Pelakunya adalah Abdur Rahman bin Muljam. Terjadi pada bulan Ramadhan tahun 40 H/661 M.[22]
Sebelum perang Shifin dan perang melawan negara Mesir, khalifah Ali bin Abi Thalib juga penah perang melawan rakyatnya sendiri dengan persoalan yang sepele, yakni kesalahpahaman kelompok yang dipimpin oleh Aisyah atas kepemimpinannya khalifah Ali bin Abi Thalib. Tetapi konflik tersebut tidak berlangsung lama dan damai.[23]
Sepeninggal khalifah Ali bin Abi Thalib, pemimpin umat Islam dipimpin oleh Hasan bin Ali. Tetapi masa kekuasaannya berjalan hanya enam bulan. Karena banyak para sahabat yang berselisih antara satu dengan lainnya, akhirnya demi kemaslahatan umat, Hasan pun mundur dan melakukan perdamaian dan menyerahkan kekuasaan pada Bani Umayah. Dan sejak itulah masa Khulafaur Rasyidin berakhir dan umat Islam dipimpin oleh Bani Umayah.[24]
Dengan gelar yang disandang Khalifah Ali bin Abi Thalib antara lain, “Babul Ilmu” karena beliau banyak meriwayatkan hadits, “Zulfikar” karena pedangnya yang bermata, “asadullah” (singa Allah) karena beliau selalu ada dibarisan depan dalam perang dan memperoleh kemenangan, “Karramallahu Wajhahu” (wajahnya yang dimuliakan Allah SWT) karena sejak kecil beliau dikenal keshalihannya dan kebersihan jiwanya, “Imamul Masakin” (imam para orang miskin) karena beliau selalu mendahulukan orang miskin, selalu belas kasihan pada orang miskin dan anak yatim piatu.


PENUTUP
Didalam sejarah Islam, sistem kepemimpinan umat Islam selalu mengalami perombakan pemimpin tetapi sistem yang digunakan dalam roda pemerintahannya tetap terpacu kepada pemimpin umat Islam pertama kali, yaitu Nabi Muhammad SAW. Setelah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW selesai, pemimpin Umat Islam dipegang oleh Abu Bakar ash-Shidiq, kemudian Umar bin Khathab, kemudian Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib yang sekaligus penutup masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin.
Didalam roda pemerintahannya, semua pemimpin pada masa Khulafaur Rasyidin masih mengacu pada sistem yang dijalnkan Nabi Muhammad SAW yaitu dengan musyawarah dan ekspansi-ekspansi kecuali Ali bin Abi Thalib. Ali manjalankan sistem pemerintahannya dengan terpusat pada penertiban negara dan membangun kembali bangunan-bangunan negara. Karena pada saat umat Islam dipimpinnya, keadaan negara Islam sedang gonjang-ganjing.
Semua pemimpin pada masa Khulafaur Rasyidin, oleh Allah SWT mendapat tempat di surga atas syafa’at dari Nabi Muhammad SAW. Dan semoga kita mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW di akherat kelak. Amin



DAFTAR PUSTAKA
al-‘Usairy, Ahmad. Sejarah Islam. Jakarta : Media Grafik, 2008.
Hossein Nasr, Seyyed. Islam : agama, sejarah, dan peradaban. Surabaya : Risalah Gusti, 2003.
Kurniawan, Syamsul., Erwin Mahrus. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta : AR-RUZZ Media, 2011.
Murodi. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t.
Taufiqurrahman. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam. Surabaya : CV. Melowopati Surabaya, 2003.


[1] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 165.
[2] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya : CV. Melowopati Surabaya, 2003) 75.
[3] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 167-168.
[4] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 39.
[5] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya : CV. Melowopati Surabaya, 2003) 75.
[6] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya : CV. Melowopati Surabaya, 2003) 76.
[7] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 39.
[8] Syamsul Kurniawan., Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jogjakarta : AR-RUZZ Media, 2011) 59.
[9] Syamsul Kurniawan., Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jogjakarta : AR-RUZZ Media, 2011) 61.
[10] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya : CV. Melowopati Surabaya, 2003) 78.
[11] Seyyed Hossein Nasr, Islam : agama, sejarah, dan peradaban, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003) 133.
[12] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 169.
[13] Ibid. 171.
[15] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 172.
[16] Ibid. 172.
[17] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 39-40.
[18] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya : CV. Melowopati Surabaya, 2003) 82.
[19] Murodi. Sejarah Kebudayaan Islam. (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 40.
[20] Seyyed Hossein Nasr, Islam : agama, sejarah, dan peradaban,  (Surabaya : Risalah Gusti, 2003) 136.
[21] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 176.
[22] Ibid, 177.
[23] Ibid, 174.
[24] Seyyed Hossein Nasr, Islam : agama, sejarah, dan peradaban, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003) 136.

Tidak ada komentar: