PENDAHULUAN
Sebelum umat Islam dipimpin oleh Khalifah
Ustman ibn ‘Affan, umat Islam dipimpin oleh Baginda Muhammad Rosululloh SAW,
setelah beliau wafat umat Islam dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq,
kemudian dipimpin oleh Sayyidina Umar ibn Khathab setelah Abu Bakar
wafat karena sakit. Khalifah Ustman ibn ‘Affan memimpin umat Islam dengan
warisan wilayah yang cukup luas dari pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Tugas khalifah Ustman ibn ‘Affan adalah
meneruskan perjuangan dari khalifah pendahulunnya, tugas yang diemban khalifah Ustman
ibn ‘Affan tidaklah serumit pendahulu-pendahulunya, akan tetapi tugas tersebut
dilaksanakannya demi menyelamatkan manusia dari kegelapan dan meneruskan
perjuangan Baginda Muhammad SAW yang diutus Allah SWT untuk menyelamatkan
umat-Nya.
Di dalam makalah ini, akan sedikit
membahas tentang sejarah khalifah Ustman ibn ‘Affan dan khalifah Ali bin Abi
Thalib, agar para pembaca dapat menimba sedikit ilmu dari makalah ini tentang
sejarah Islam.
PEMBAHASAN
Khalifah Ustman ibn ‘Affan (23-35 H/644-656 M)
Khalifah Ustman ibn ‘Affan merupakan
keturunan asli dari Bani Umayah yang bernama Ustman ibn ‘Affan bin Abi ‘Ash bin
Umayyah bin Abdu Syams. Khalifah Ustman ibn ‘Affan mempunyai sifat dermawan,
murah hati dan malu yang semuanya itu membedakan dengan sifat sahabat Nabi yang
lainnya. Dengan sifat inilah, Nabi Muhammad SAW sangat suka dengan khalifah Ustman
ibn ‘Affan, sampai-sampai pada wafatnya Nabi Muhammad SAW dalam keadaan suka
dengan khalifah Ustman ibn ‘Affan.[1]
Khalifah Ustman ibn ‘Affan merupakan
pemimpin umat Islam setelah Umar bin Khathab meninggal. Dalam pengangkatan khalifah
Ustman ibn ‘Affan ada beberapa golongan atau kaum yang sedikit tidak setuju
akan pengangkatan khalifah Ustman ibn ‘Affan, tapi akhirnya mereka setuju.
Khalifah Ustman ibn ‘Affan diangkat menjadi khalifah berusia tujuh puluh tahun.[2]
Dimasa kepemimpinannya, khalifah Ustman
ibn ‘Affan meneruskan pergerakan ekspansi-ekspansi yang dilakukan oleh khalifah
sebelumnya, yaitu penaklukan-penaklukan di daerah barat, timur dan utara. Hasilnya
sangat membanggakan, baik penaklukannya lewat darat maupun laut, semuanya
membuahkan hasil yang positif bagi umat Islam dan pemerintahannya. Seperti
penaklukan Iskandariya, Farghanah, Kabul, Jurjan, Persia, Afrika[3], Asia
kecil, pesisir Laut Hitam, Cyprus, Rhodes, Tunisia, Nubia, Armenia, Azerbeijan,
Tabaristan[4]. Yang
hasil rampasan dan pajaknya dapat dipakai untuk kesejahteraan rakyat dan untuk
kemajuan negara dengan membangun atau merenovasi atau membeli peralatan perang.[5]
Sedikit perombakan sistem yang dijalankan
khalifah Ustman ibn ‘Affan yang berdampak semakin stabilnya sistem
pernbendaharaan negara yang lebih menekankan
kekuasaan terpusat (sentralisasi), yaitu menempatkan dalam setiap
propinsi itu ada penanggungjawabnya atau sering disebut Gubernur dan menetapkan
Juru Hitung Safawi.[6]
Dengan adanya gubernur setiap propinsi, maka segala permasalahan sedikit dapat
teratasi dan jika tidak teratasi, maka khalifah Ustman ibn ‘Affan yang akan
menuntaskan permasalahannya.[7]
Dengan keberhasilan khalifah Ustman ibn
‘Affan dalam pergerakan politik-politiknya tersebut menunjukkan bahwa
kekhalifahannya sedikit-banyak dapat mengurangi kekufuran kaum-kaum yang belum
terjamah oleh Islam. Didalam perjuangannya sampai dapat menaklukkan beberapa
wilayah dan propinsi, beliau dibantu oleh beberapa sahabat dekatnya ataupun
dari keluarga beliau dari Bani Umayah.
Khalifah Ustman ibn ‘Affan menjalankan
sistem pemerintahan tak jauh berbeda dengan khalifah-khalifah sebelumnya, yakni
sering menggunakan musyawarah untuk mengukuhkan kemufakatan yang haq yang
akhirnya dapat dijalankan sesuai dengan prosedur. Sedangkan untuk urusan
pendidikan Islam, khalifah Ustman ibn ‘Affan menggunakan metode yang belum
pernah dilakukan oleh khalifah-khalifah sebelumnya, yaitu dengan membolehkan
para mu’alim-mu’alim mengajarkan ilmu ke-Islam-an ke luar daerah madinah, yang
sebelumnya pendidikan Islam hanya dilakukan di Madinah saja.[8]
Dampak dari metode yang dipakai khalifah Ustman
ibn ‘Affan sangat efisien. Kini, ahli tentang ilmu Islam bukan hanya ada di
Madinah saja, akan tetapi di luar Madinah pun juga ada, tapi semuanya tetap
dalam pengawasan khalifah Ustman ibn ‘Affan yang berpusat di Madinah yang
merupakan pusat dari Pendidikan. Dengan begitu, Islam akan cepat menyebarluas
ke seluruh penjuru dunia jika para mu’alim tersebut berkeinginan menelurkan ke
umat yang belum mengerti tentang ajaran Islam.
Usaha khalifah Ustman ibn ‘Affan dalam
pendidikan juga diterapkan sejak dini. Setiap orang tua yang memiliki anak dianjurkan
mengajarkan anaknya membaca, memanah, menunggangi kuda, berenang, dan menghafal
syair yang sedang-sedang. Sedangkan dalam urusan pendidikan yang sedikit
bertingkat diatasnya, seperti membaca, menulis, menafsirkan al-Qur’an, menghafal dan mengumpulkan hadits, dan
mempelajari fiqh atau tentang syari’at lainnya langsung dibimbing oleh khalifah
Ustman ibn ‘Affan jika ada waktu untuk mengajar dan para sahabat lainnya yang
juga mahir dala bidang tersebut.[9]
Khalifah Ustman ibn ‘Affan dalam
mengembangkan pendidikan Islam juga memperkenalkan al-Qur’an standar dengan
meninjau ulang shuhuf-shuhuf yang telah ditulis oleh Zait bin Tsabit pada masa khalifah
Abu Bakar ash-Shidiq. Yang sekarang kita kenal dengan nama Mushaf al
Imam atau Usmani.[10]
Dalam masa kekhalifahan Ustman ibn
‘Affan, sebagian besar dijalaninya dengan aman, stabil dan makmur. Akan tetapi,
tak selamanya kemakmuran tersebut dialami secara terus menerus. Hal ini dialami
khalifah Ustman ibn ‘Affan pada usia senjanya. Pada masa akhir pemerintahannya,
banyak terjadi konflik dan masalah yang berkelanjutan yang akhirnya khalifah Ustman
ibn ‘Affan wafat secara terdzalimi.
Sebab keruntuhan khalifah Ustman ibn
‘Affan karena luas wilayah Islam semakin meluas dan keadaan rakyatnya semakin
tidak terkontrol serta sulit menyatukan wadah dalam satu manhaj. Disisi
lain, korupsi, kolusi dan nepotisme semakin marak dikalangan pemimpin wilayah.[11]
Kemudian, di Mesir ada seorang pelopor berasal dari Yahudi yang berpura-pura
beragama Islam mendoktrin rakyat mesir akan keraguan kekhalifahan Ustman ibn
‘Affan dalam memimpin negara Islam.
Akhirnya menimbulkan fitnah yang sangat
besar menimpa khalifah Ustman ibn ‘Affan yang membuat kondisi negara semakin
kacau. Kemudian disaat semua petinggi negara sedang sibuk mengurusi konflik dan
problema negara, salah seorang dar kelompok pemberontak (Al-Ghafiqi) menyusup
negara dan tak diketahui oleh keamanan negara dan dia membunuh khalifah Ustman
ibn ‘Affan dengan menusuknya.
Sungguh amat rugi bagi umat Islam
kehilangan seorang khalifah yang sangat baik, shaleh dan rajin ibadah. Dan tak
terlupakan lagi, khalifah Ustman ibn ‘Affan menjalankan sistem pemerintahannya
sangat demokratis. Wafatnya khalifah Ustman ibn ‘Affan pada usia 82 tahun[12] dan
terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun 35 H/656 M.[13]
Khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H/656 M – 40 H/661 M).
Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan
keturunan Bani Hasyim, lahir pada tahun 603 M di samping ka’bah kota Makkah, mempunyai
nama asli Haidarah yang artinya singa (pemberian dari ayahnya Abu Thalib) dan
Ali yang artinya menakut-nakuti musuh (pemberian dari Rasullulloh SAW).[14] Beliau
merupakan sepupu dari Rasululloh SAW yang lebih muda 32 tahun dari Rasululloh
SAW sekaligus menantu Rasululloh SAW
dari pernikahan Fatimah (putri Rasul) dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib.[15]
Khalifah Ali bin Abi Thalib sejak kecil
dibina langsung oleh Rasululloh SAW, sehingga Beliau fasih dan cerdas tentang
al-Qur’an dan melafalkannya. Khalifah Ali bin Abi Thalib juga termasuk dalam ashabihuunal
awwalun dari kalangan anak-anak, Beliau masuk Islam dalam usia kurang dari
10 tahun. Beliau juga orang yang pertama kali yang rela menjadi Fida’
atau tebusan Rasululloh SAW dalam Islam. Khalifah Ali bin Abi Thalib
menyerahkan harta milik Rasululloh SAW kepada para pemiliknya. Ketika Rasul
perangpun, khalifah Ali bin Abi Thalib selalu ada disamping Rasul dan memiliki
keberanian yang melegenda dalam dunia Islam.[16]
Di masa jayanya, khalifah Ali bin Abi
Thalib diberi kesempatan untuk memimpin umat Islam setelah khalifah Utsman bin
‘Affan, pada saat terjadi banyak konflik di negara Islam dan kemudian
terbunuhnya khalifah Utsman bin ‘Affan di tangan para pemberontak, umat Islam
menunjuk khalifah Ali bin Abi Thalib untuk memimpin negara Islam pada periode
35 H/656 M – 40 H/661 M.
Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib
merupakan masa yang sulit, masa yang terjadi banyak konflik di negara Islam
bahkan sampai terjadi perang saudara, sehingga para sahabat mendesaknya untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Karena itulah, pada masa khalifah Ali bin Abi
Thalib roda pemerintahannya terpusat pada pembangunan dan penertiban negara.[17]
Dengan tegas khalifah Ali bin Abi Thalib
menertibkan negaranya dengan menarik tanah dan hibah yang diberikan oleh
kerabat Utsman kembali ke negara,[18] menggantikan
gubernur Basrah dan Qais yang sebelumnya dijabat oleh kerabatnya Utsman yaitu
Bani Umayah.[19]
Hal inilah menjadi penyebab terpecahnya Bani Umayah dengan khalifah Ali bin Abi
Thalib dan juga sahabat-sahabat lainya Talhah, Zubair dan Aisyah.
Perselisihan antara Bani Umayah dengan khalifah
Ali bin Abi Thalib menyebabkan terjadinya perang Shifin yang hasilnya hampir
saja dimenangkan oleh khalifah Ali bin Abi Thalib akan tetapi dari pihak Bani
Umayah mengangkat al-Qur’an dan pertanda perang harus dihentikan karena untuk
menghormati al-Qur’an. Setelah perang berhenti, pihak Umayah mengajak khalifah Ali
bin Abi Thalib untuk berunding akan kelanjutan perselisihannya dan hasilnya
nihil atau tidak ada jawaban untuk menyelesaikannya. Akhirnya kedua pihak
pulang ke daerahnya masing-masing.[20]
Sesampainya di daerah kekuasaan khalifah Ali
bin Abi Thalib, ada rakyatnya yang menyuruh khalifah Ali bin Abi Thalib untuk
memerangi Bani Umayah, tetapi khalifah Ali bin Abi Thalib dengan sopan
menolaknya. Dengan kebijakan khalifah Ali bin Abi Thalib inilah, rakyatnya
banyak yang menentang dan membangkang perintahnya. Akhirnya, mereka keluar dari
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan disebut Kaum Khawarij.[21]
Dengan sifat keangkuhannya Kaum Khawarij
dengan pemimpinnya tersebut, khalifah Ali bin Abi Thalib memeranginya dan
akhirnya khalifah Ali bin Abi Thalib berhasil menebas mereka. Sehingga, wilayah
negara menjadi aman dan terkendali lagi. Akan tetapi dampak negatifnya banyak
Kaum Khawarij melarikan diri ke wilayah-wilayah lainnya dan membentuk suatu
kelompok sendiri-sendiri.
Akibat pelarian Kaum Khawarij tersebut,
Mesir atau negara Syam dikuasai oleh Kaum Khawarij dan juga Bani Umayah sekaligus
pemimpin negara Mesir. Dan Mesir melakukan ekspansi-akspansi ke kota madinah,
kota yang dikuasai oleh khalifah Ali bin Abi Thalib untuk memperluas daerah
kekuasaan. Akhirnya peperangan pun tak terbendung dengan khalifah Ali bin Abi
Thalib dan kemenangan ada pada pihak Bani Umayah.
Sebab peperangan dengan Mesir itulah khalifah
Ali bin Abi Thalib terbunuh pada saat beliau melaksanakan Sholat subuh.
Pelakunya adalah Abdur Rahman bin Muljam. Terjadi pada bulan Ramadhan tahun 40
H/661 M.[22]
Sebelum perang Shifin dan perang melawan
negara Mesir, khalifah Ali bin Abi Thalib juga penah perang melawan rakyatnya
sendiri dengan persoalan yang sepele, yakni kesalahpahaman kelompok yang
dipimpin oleh Aisyah atas kepemimpinannya khalifah Ali bin Abi Thalib. Tetapi
konflik tersebut tidak berlangsung lama dan damai.[23]
Sepeninggal khalifah Ali bin Abi Thalib,
pemimpin umat Islam dipimpin oleh Hasan bin Ali. Tetapi masa kekuasaannya
berjalan hanya enam bulan. Karena banyak para sahabat yang berselisih antara
satu dengan lainnya, akhirnya demi kemaslahatan umat, Hasan pun mundur dan
melakukan perdamaian dan menyerahkan kekuasaan pada Bani Umayah. Dan sejak
itulah masa Khulafaur Rasyidin berakhir dan umat Islam dipimpin oleh
Bani Umayah.[24]
Dengan gelar yang disandang Khalifah Ali
bin Abi Thalib antara lain, “Babul Ilmu” karena beliau banyak
meriwayatkan hadits, “Zulfikar” karena pedangnya yang bermata, “asadullah”
(singa Allah) karena beliau selalu ada dibarisan depan dalam perang dan
memperoleh kemenangan, “Karramallahu Wajhahu” (wajahnya yang dimuliakan Allah
SWT) karena sejak kecil beliau dikenal keshalihannya dan kebersihan jiwanya, “Imamul
Masakin” (imam para orang miskin) karena beliau selalu mendahulukan orang
miskin, selalu belas kasihan pada orang miskin dan anak yatim piatu.
PENUTUP
Didalam sejarah Islam, sistem
kepemimpinan umat Islam selalu mengalami perombakan pemimpin tetapi sistem yang
digunakan dalam roda pemerintahannya tetap terpacu kepada pemimpin umat Islam
pertama kali, yaitu Nabi Muhammad SAW. Setelah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW selesai,
pemimpin Umat Islam dipegang oleh Abu Bakar ash-Shidiq, kemudian Umar
bin Khathab, kemudian Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib yang sekaligus
penutup masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin.
Didalam roda pemerintahannya, semua
pemimpin pada masa Khulafaur Rasyidin masih mengacu pada sistem yang
dijalnkan Nabi Muhammad SAW yaitu dengan musyawarah dan ekspansi-ekspansi
kecuali Ali bin Abi Thalib. Ali manjalankan sistem pemerintahannya dengan
terpusat pada penertiban negara dan membangun kembali bangunan-bangunan negara.
Karena pada saat umat Islam dipimpinnya, keadaan negara Islam sedang
gonjang-ganjing.
Semua pemimpin pada masa Khulafaur
Rasyidin, oleh Allah SWT mendapat tempat di surga atas syafa’at dari
Nabi Muhammad SAW. Dan semoga kita mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad
SAW di akherat kelak. Amin
DAFTAR PUSTAKA
al-‘Usairy, Ahmad. Sejarah Islam. Jakarta : Media
Grafik, 2008.
Hossein Nasr, Seyyed. Islam : agama, sejarah, dan
peradaban. Surabaya : Risalah Gusti, 2003.
http://www.isomwebs.com/2011/sejarah-peradaban-islam-pada
-masa-khalifah-rasyidin/ di akses pada sabtu, 24 Maret 2012.
Kurniawan, Syamsul., Erwin Mahrus. Jejak Pemikiran Tokoh
Pendidikan Islam. Jogjakarta : AR-RUZZ Media, 2011.
Murodi. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang : PT. Karya
Toha Putra, t,t.
Taufiqurrahman. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam
Daras Sejarah Peradaban Islam. Surabaya : CV. Melowopati Surabaya, 2003.
[1] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah
Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 165.
[2] Taufiqurrahman, Sejarah
Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya :
CV. Melowopati Surabaya, 2003) 75.
[3] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah
Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 167-168.
[4] Murodi, Sejarah
Kebudayaan Islam, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 39.
[5] Taufiqurrahman, Sejarah
Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya :
CV. Melowopati Surabaya, 2003) 75.
[6] Taufiqurrahman, Sejarah
Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya :
CV. Melowopati Surabaya, 2003) 76.
[7] Murodi, Sejarah
Kebudayaan Islam, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 39.
[8] Syamsul Kurniawan., Erwin
Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jogjakarta : AR-RUZZ
Media, 2011) 59.
[9] Syamsul Kurniawan., Erwin
Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jogjakarta : AR-RUZZ
Media, 2011) 61.
[10] Taufiqurrahman, Sejarah
Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya :
CV. Melowopati Surabaya, 2003) 78.
[11] Seyyed Hossein Nasr, Islam
: agama, sejarah, dan peradaban, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003) 133.
[12] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah
Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 169.
[13] Ibid. 171.
[14] http://www.isomwebs.com/2011/sejarah-peradaban-islam-pada
-masa-khalifah-rasyidin/ di akses pada sabtu, 24 Maret 2012.
[15] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah
Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 172.
[16] Ibid. 172.
[17] Murodi, Sejarah
Kebudayaan Islam, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 39-40.
[18] Taufiqurrahman, Sejarah
Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya :
CV. Melowopati Surabaya, 2003) 82.
[19] Murodi. Sejarah
Kebudayaan Islam. (Semarang : PT. Karya Toha Putra, t,t) 40.
[20] Seyyed Hossein Nasr, Islam
: agama, sejarah, dan peradaban, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003) 136.
[21] Ahmad al-‘Usairy, Sejarah
Islam, (Jakarta : Media Grafik, 2008) 176.
[22] Ibid, 177.
[23] Ibid, 174.
[24] Seyyed Hossein Nasr, Islam
: agama, sejarah, dan peradaban, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003) 136.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar